Bangkai kapal Virgo tidak kunjung diangkat, keluarga korban minta Presiden Prabowo turun tangan – 'Kami dibohongi'

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Destyan Sujarwoko
Sebagian keluarga korban tenggelamnya kapal motor (KM) Virgo di Laut Jawa meminta pemilik kapal dan asuransi Protection and Indemnity (P&I) untuk mempercepat proses pengangkatan (salvage) bangkai kapal tersebut.
Mereka juga meminta Presiden Prabowo Subianto turun tangan dan mendorong pemilik kapal supaya segera melakukannya.
Perwakilan keluarga korban KM Virgo meyakini bahwa jenazah anggota keluarganya—yang belum ditemukan—berada di dalam bangkai kapal.
Tuntutan itu terus disuarakan keluarga korban ketika tim SAR pada Sabtu (03/10) menyatakan bahwa mereka tidak lagi memaksakan pencarian di dalam badan kapal.
Alasannya, kondisi bangkai kapal dinilai semakin berisiko bagi tim penyelam.
Sejak Sabtu (03/10), fokus operasi pencarian dialihkan dan dioptimalkan di permukaan laut dan di wilayah pesisir Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat.
Operasi pencarian korban di dalam bangkai kapal akan dilanjutkan, demikian tim SAR, jika kapal tersebut sudah diangkat ke permukaan.
Dalam situasi seperti inilah, keluarga korban menuntut supaya bangkai kapal segera diangkat.
"Kami di sini selaku keluarga korban memohon kepada bapak Presiden Prabowo, pemerintah pusat untuk menekan pemilik kapal Virgo dan pihak asuransi P&I untuk segera mengangkat kapal," kata Karina, perwakilan keluarga korban, kepada wartawan di Banjarmasin, Kamis (01/10).
KM Virgo Transport 8 tenggelam di perairan Masalembo, Laut Jawa, pada Minggu (13/09) dini hari.
Berangkat dari Surabaya menuju Banjarmasin, kapal itu mengalami kemiringan sebelum akhirnya terbalik dan tenggelam.
Sampai Sabtu (03/10) malam, Basarnas telah mengonfirmasi sebanyak 188 orang telah ditemukan, terdiri atas 108 orang selamat dan 80 orang meninggal dunia.
Adapun 55 korban lainnya masih proses pencarian dari total 243 orang dalam manifes KM Virgo Transport 8.
'Kami dibohongi'
Lebih lanjut Karina menjelaskan, pada mediasi pertama, perwakilan operator KM Virgo disebutnya menjanjikan kepada keluarga korban bahwa peralatan untuk proses evakuasi badan kapal telah disiapkan.
Namun, hingga hari ke-21, keluarga mengaku belum melihat peralatan tersebut digunakan untuk persiapan pengangkatan bangkai kapal.

Sumber gambar, Donny Muslim/BBC Indonesia
"Kami dibohongi," cetusnya, seperti dilaporkan jurnalis di Banjarmasin, Donny Muslim untuk BBC News Indonesia, Kamis (01/10).
Keluarga korban lantas meminta kepastian kapan pengangkatan badan kapal dilakukan.
Karina khawatir, jika jenazah yang masih berada di dalam kapal tidak dievakuasi, akan sulit diidentifikasi nantinya.
"Kami memohon pemilik [KM Virgo} turun langsung menemui kami secara gentle dan bisa mengambil keputusan karena masih banyak pertanyaan kami yang harus dijawab dengan cepat," tegasnya.
Kemenhub tegur keras asuransi P&I dan pemilik kapal Virgo
Sebelumnya, Kepala Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Banjarmasin, Heri Purwanto mengatakan, Kementerian Perhubungan telah meminta pemilik KM Virgo segera melakukan pengangkatan bangkai kapal.
Menurutnya, Menteri Perhubungan telah memberikan teguran keras kepada pemilik kapal, PT Virgo, agar segera mengupayakan pengangkatan bangkai kapal.
Alasannya, masih terdapat korban yang diduga masih berada di dalam kapal.
"Pak Menteri [Perhubungan] sudah menegur keras kepada owner kapal PT Virgo untuk segera melakukan pengangkatan kapal ini, karena memang masih banyak korban yang terjebak dalam kapal," kata Heri, Senin (28/09).

Sumber gambar, KOMPAS.com/Nur Khalis
Namun, Heri mengatakan Kementerian Perhubungan memiliki keterbatasan kewenangan dalam pelaksanaan pengangkatan bangkai kapal.
Keputusan dan pelaksanaan pengangkatan kapal itu berkaitan dengan pihak asuransi, ujarnya.
"Kementerian Perhubungan hanya bisa sebatas menegur dan memerintahkan segera. Semuanya itu tergantung dari pihak asuransi," jelasnya.
Apa tanggapan pemilik KM Virgo?
Di hubungi secara terpisah, juru bicara kapal motor (KM) Virgo Transport, Simson Rihi, mengatakan bahwa upaya pengangkatan kapal sudah masuk dalam tahap pemilihan siapa perusahaan yang mampu melakukannya.
Simson mengklaim, pihak asuransi P&I—selaku asuransi kapal KM Virgo—telah membuka tender untuk memilih kontraktor yang akan menangani proses pengangkatan bangkai kapal.
Sejumlah perusahaan telah mengikuti tender dan kini masuk tahap pembahasan, demikian klaim Simson.
"Yang sudah masuk ini sedang dalam tahap pembicaraan. Diharapkan dalam waktu dekat ini pembicaraan sudah bisa mengerucut dan sudah bisa memutuskan salah satu kontraktor utama untuk secepatnya dilakukan," kata Simson dihadapan wartawan, seperti dilaporkan jurnalis di Banjarmasin, Donny Muslim untuk BBC News Indonesia, Kamis (01/10).

Sumber gambar, Radar Surabaya/Antara
Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.
Klik di sini
Akhir dari Whatsapp
Dari sejumlah perusahaan yang mengikuti tender, pilihan disebut telah mengerucut pada dua vendor dari Amerika Serikat atau Inggris.
Dia menjelaskan, penentuan siapa vendor yang bakal dipilih, mempertimbangkan kemampuan perusahaan, pengalaman, peralatan, serta metode kerja yang sesuai dengan kondisi bangkai KM Virgo.
Menurutnya, pelaksanaan teknis pengangkatan kapal (salvage) berada pada pihak P&I.
"Karena untuk kewajiban melakukan salvage ini bukan di kami, tetapi di pihak P&I. Mereka yang mempunyai kemampuan dan keahlian di bidang ini," ujarnya.
Jika kontraktor yang dipilih merupakan perusahaan asing, mereka akan bermitra dengan perusahaan lokal.
"Mitra lokal sedang dijajaki, sedang dibicarakan secara intens. Kalau tidak ada halangan, dalam waktu dekat juga sudah ada keputusan seperti apa," akunya.
Simson mengatakan proses pengangkatan bangkai kapal memiliki risiko karena kondisi struktur kapal dapat berubah atau bahkan patah saat proses evakuasi.
"Tidak bisa sembarangan mengangkat ini, ada risiko kapal bisa patah dan menyebabkan polusi pada laut," ujarnya.

Sumber gambar, MUDA SAGALA / AFP via Getty Images
Karena itu, Simson belum dapat memastikan waktu maupun metode pengangkatan. Kedua hal tersebut, menurut dia, merupakan kewenangan P&I.
"Masalah waktunya saya tidak bisa menyampaikan, karena itu adalah kewenangan daripada P&I sendiri. Begitu pula dengan metodenya," katanya.
Pemilik kapal Virgo kata Simson, juga telah mendapat dukungan dari Basarnas, Kementerian Perhubungan, KSOP, dan Bakamla untuk mendorong P&I segera menentukan perusahaan yang akan menangani proses salvage.
"Kami juga sudah mendapat dukungan untuk memberikan tekanan kepada pihak P&I supaya bisa segera dilakukan pemilihan perusahaan yang bisa mengangkat kapal," aku Simson.
Mengapa pencarian jenazah di dalam kapal dihentikan sementara?
Pada Sabtu (03/10), operasi pencarian dan pertolongan (SAR) korban tenggelamnya KM Virgo diperpanjang setelah memasuki hari ke-21.
Namun, tim SAR tidak lagi memaksakan pencarian di dalam badan kapal.
Alasannya, kondisi bangkai kapal dinilai semakin berisiko bagi tim penyelam.
Kepala Basarnas, Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii mengatakan keputusan tersebut diambil berdasarkan hasil evaluasi terhadap operasi penyelaman selama ini.
Menurut Syafii, penyelaman dilakukan sebanyak empat hingga lima sortie (pengerahan atau pengiriman) setiap hari.

Sumber gambar, Basarnas
Dalam setiap sortie, dua hingga tiga tim dikerahkan dengan kekuatan lima penyelam per tim.
Operasi penyelaman berlangsung sekitar pukul 09.00 hingga 16.00 WITA.
Hingga hari ke-21, pencarian dihadapkan pada sejumlah keterbatasan, baik kondisi cuaca maupun kondisi pelaksanaan SAR bawah air.
"Semakin jauh penyelaman dilakukan ke dalam badan kapal, semakin kompleks pula risiko yang dihadapi," kata Syafii, seperti dilaporkan jurnalis di Banjarmasin, Donny Muslim untuk BBC News Indonesia, Sabtu (03/10).
Ia menjelaskan, penyelam sejauh ini telah melakukan penetrasi sekitar 10 hingga 15 meter ke dalam badan kapal.
Tapi, penetrasi lebih jauh terhambat banyaknya material dan debris—serpihan, puing, atau sisa-sisa material dari suatu benda atau struktur yang rusak, hancur, atau berserakan—yang memenuhi bagian dalam kapal.
Struktur kapal yang tidak stabil juga menjadi pertimbangan bagi keselamatan tim penyelam.

Sumber gambar, Basarnas
Posisi bangkai kapal masih dapat mengalami perubahan dan dikhawatirkan mengalami penurunan yang lebih ekstrem ketika penyelam berada di dalamnya, jelas Syafii.
Lagipula, kondisi visibilitas di dalam kapal juga sangat rendah akibat sedimen dan debris.
"Kondisi tersebut tidak hanya menghambat pencarian, tetapi juga meningkatkan risiko penyelam mengalami disorientasi," katanya.
Tim SAR juga menghadapi potensi bahaya lain, seperti benda-benda tajam yang dapat menyebabkan cedera hingga potensi bahaya kimia akibat tumpahan minyak dan kontaminan lainnya.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Destyan Sujarwoko
Lebih dari itu, keterbatasan oksigen dalam peralatan penyelam juga membatasi durasi pencarian. "Setiap penyelaman tidak dapat dilakukan lebih dari sekitar 20 menit," kata Syafii.
Dengan mempertimbangkan kondisi tersebut, pencarian di dalam badan kapal tidak akan dilanjutkan sampai bangkai KM Virgo diangkat.
"Operasi SAR dalam badan kapal dapat dilaksanakan kembali setelah kapal diangkat," tegas Syafii.
Pencarian korban dialihkan ke permukaan laut dan pesisir
Meski pencarian di dalam kapal dihentikan sementara, operasi pencarian korban KM Virgo tetap dilanjutkan.
Kepala Basarnas, Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii mengatakan, fokus operasi dialihkan dan dioptimalkan melalui pencarian di permukaan laut dan wilayah pesisir.
"Area prioritas meliputi Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Barat," kata Syafii.
Operasi selanjutnya melibatkan Kantor SAR Banjarmasin, Kantor SAR Palangkaraya, dan Kantor SAR Pontianak.
Polda Kalsel tetapkan empat tersangka terkait tenggelamnya Kapal Virgo
Sebelumnya, Polda Kalimantan Selatan telah menetapkan empat orang tersangka terkait tenggelamnya Kapal Motor (KM) Virgo 8 di Laut Jawa pada Minggu (13/09) lalu.
Mereka adalah nakhoda, agen PT Virgo Karya Shipping, manajer cabang dan manajer operasional perusahaan kapal tersebut.
"Kami dari tim penyidik gabungan dari penyidik Krimsus, Polair, dan Polresta Banjarmasin telah menetapkan empat tersangka. Nakhoda, manajer cabang, manajer operasional, dan agen," kata Direktur Reskrimsus Polda Kalsel Kombes Pol Sigit Haryono, Jumat (02/10).
Sigit tidak merinci nama-nama tersangka.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Rizal Hanafi
Mereka dijadikan tersangka berdasarkan alat bukti yang dinilai cukup, kata Sigit, seperti dilaporkan jurnalis di Banjarmasin, Donny Muslim untuk BBC Indonesia, Jumat.
Dari empat tersangka, satu orang telah ditahan, sementara tiga lainnya baru dipanggil untuk menjalani pemeriksaan sebagai tersangka.
Tersangka nakhoda, sambungnya, saat ini ditahan di Direktorat Kepolisian Perairan dan Udara (Ditpolairud) Polda Kalsel.
Terhadap tersangka nakhoda, seperti dilaporkan Antara, penyidik polisi menjeratnya dengan Pasal 302 ayat (3) Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran dan/atau Pasal 474 ayat (3) juncto Pasal 20 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP).
Ada pun tiga tersangka lainnya, "baru kita layangkan kemarin surat panggilan untuk pemeriksaan," ujar Sigit.
Sigit mengatakan perkara tersebut selanjutnya ditangani Korpolairud Baharkam Polri.
"Dan saat ini, sekali lagi, karena peristiwanya ini ada di Surabaya, ada di Banjarmasin, sehingga perkara tersebut nantinya akan ditangani oleh Polairud Baharkam," katanya.

Sumber gambar, Basarnas
Sigit menjelaskan pelimpahan perkara ke Korpolairud demi kelancaran proses penyidikan selanjutnya.
Alasannya, banyak pihak terkait harus dimintai keterangan di luar wilayah Kalimantan Selatan.
Dari insiden tenggelamnya Kapal Virgo yang berlayar dari Surabaya tujuan Banjarmasin itu, sampai Jumat (02/10), Basarnas telah mengevakuasi 186 orang korban dari 243 penumpang dan kru kapal.
Terdiri atas 108 orang ditemukan selamat dan 78 orang meninggal dunia, sementara 57 korban masih proses pencarian hingga kini.
Nakhoda KM Virgo langsung ditahan
Pada Rabu (30/09), nakhoda Kapal Motor (KM) Virgo, Arief Yunianto, telah ditetapkan sebagai tersangka terkait tenggelamnya kapal tersebut di perairan laut Jawa.
Arief langsung ditahan di Rumah Tahanan (Rutan) Polda Kalimantan Selatan.
Hal itu diumumkan Direktorat Polisi Perairan Korps Kepolisian Perairan dan Udara (Ditpolair Korpolairud) Baharkam Polri, Rabu (30/09).
"Sudah menetapkan tersangka nakhodanya dan sudah dilakukan penahanan," kata Kasubdit Gakkum Ditpolair Korpolairud Baharkam Polri, Kombes Kukuh Prabowo, kepada wartawan, Rabu.
Pihaknya masih melanjutkan pemeriksaan guna menelusuri potensi adanya pihak lain yang turut bertanggung jawab atas kecelakaan laut tersebut.

Sumber gambar, ANTARA/Basarnas
Pada Sabtu (26/09), tim SAR memastikan melakukan perpanjangan proses pencarian korban.
Direktur Operasi Basarnas Laksamana Pertama TNI Yudhi Bramantyo Nur Sasongko mengatakan operasi akan dievaluasi setiap tiga hari selama masa perpanjangan.
"Operasi yang sudah memasuki hari ke-14 ini merupakan perpanjangan dari yang pertama. Kami putuskan mungkin akan kami perpanjang lagi sampai tujuh hari ke depan. Tapi akan kita evaluasi setiap tiga hari," kata Yudhi, Sabtu (26/09) malam.
Perpanjangan operasi menjadi harapan bagi keluarga korban yang masih menunggu kepastian.
Keluarga korban terus menunggu
Siti Aisyah, salah satu keluarga korban, telah datang ke lokasi sejak hari keempat operasi SAR bersama suaminya. Anak pertamanya, Taufik Arifan, merupakan juru mudi sekaligus kru KM Virgo Transport 8 dan hingga kini belum ditemukan.
"Yang diharapkan anak saya bisa ketemu," kata Siti kepada jurnalis Donny Muslim yang melaporkan untuk BBC News Indonesia.

Sumber gambar, Donny Muslim
Siti memahami proses identifikasi dapat membutuhkan waktu apabila ditemukan bagian tubuh korban yang terpisah.
"Mau satu tangan, satu kepala, atau apa pun itu dikumpulkan. Sehingga kita pulang itu ada bentuk jasadnya," ujarnya.
Baca artikel terkait kejadian ini: KM Virgo terbalik di Laut Jawa – Mengapa kecelakaan dan kematian transportasi laut paling tinggi?
Dia menyadari kemungkinan terburuk yang terjadi terhadap anaknya. Namun, bagi Siti, keluarga tetap membutuhkan kepastian dan berharap korban yang masih berada di kapal dapat dikeluarkan.
"Kalau secara awam, dia itu sudah enggak ada. Jadi kalau pun mereka sudah enggak ada, saya berharap sampai tuntaslah mereka dikeluarkan dari kapal," katanya.
Menurut Siti, menerima ketentuan Tuhan tidak berarti menghentikan upaya pencarian.
"Jangan sampai dihentikanlah ini, sampai yang di kapal itu sudah enggak ada lagi jasad-jasadnya. Walaupun itu hanya satu jari," kata Siti.

Sumber gambar, Basarnas
Kepala Basarnas, Mohammad Syafii menyerukan, seluruh unsur SAR Gabungan akan terus mengoptimalkan pencarian terhadap korban yang masih dinyatakan hilang.
"Operasi SAR masih terus kami laksanakan secara maksimal. Setiap temuan akan segera dievakuasi dan ditangani sesuai prosedur. Fokus utama kami adalah menemukan korban yang masih dalam pencarian dan memberikan kepastian kepada keluarga," katanya.
Tim SAR Gabungan akan terus melanjutkan operasi pencarian dan pertolongan dengan mengerahkan personel, kapal, penyelam, serta sarana pendukung lainnya hingga seluruh korban dapat ditemukan dan dievakuasi.

Sumber gambar, Basarnas
Penyelam tak bisa masuk semua bagian kapal
Penemuan sembilan korban dari KM Virgo dilakukan ketika tim penyelam masih menghadapi keterbatasan untuk menjangkau seluruh bagian kapal.
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Banjarmasin, I Putu Sudayana mengatakan, area muat yang terdapat kendaraan dan bagian bawah badan kapal memiliki risiko tinggi bagi penyelam.

Sumber gambar, ANTARA/Basarnas
Menurut dia, pergerakan di bawah kapal dapat memengaruhi kestabilan badan kapal.
Karena itu, dirinya selaku Search Mission Coordinator (SMC) tidak merekomendasikan penyelaman pada bagian-bagian yang dinilai membahayakan keselamatan tim.
"Untuk daerah-daerah yang memang berada di bawah kapal dan itu sangat berisiko tinggi dan fatal bagi penyelam, kami tidak akan rekomendasikan," ujarnya, seperti dilaporkan jurnalis di Banjarmasin, Donny Muslim, untuk BBC News Indonesia, Rabu (23/09) malam.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Rizal Hanafi
Putu mengatakan masuk ke dalam badan kapal juga memiliki risiko karena kondisi struktur dan tekanan di dalam kapal belum sepenuhnya diketahui.
Karena itu, tim hanya akan melakukan pencarian pada bagian yang dapat dicapai dengan metode yang dinilai aman bagi penyelam dan memungkinkan korban dievakuasi tanpa memperburuk kondisinya.
"Jadi memecahkan kaca-kaca, terutama kaca-kaca kamar. Kalau masuk ke dalam itu berisiko, sangat-sangat berisiko"
Selain kondisi kapal, cuaca dan perubahan arus laut menjadi kendala dalam penyelaman pada Rabu.
Putu mengatakan tidak ada kendala teknis terkait personel maupun peralatan. Tim harus memanfaatkan jeda ketika kondisi arus memungkinkan penyelam bekerja.
"Tidak ada kendala teknis personel maupun peralatan. Yang ada adalah kendala cuaca di mana arus laut yang berubah setiap saat," ujarnya.
Apa kabar Operasi Salvage?
Basarnas menegaskan operasi pencarian dan pertolongan korban KM Virgo berbeda dengan operasi salvage atau penanganan bangkai kapal.
Putu Sudayana mengatakan operasi SAR tetap dilakukan untuk mencari dan mengevakuasi korban, meski operasi salvage terhadap bangkai KM Virgo belum dilaksanakan.
"Saya sampaikan di sini agar dibedakan antara operasi SAR yang kami laksanakan dengan operasi salvage," kata Putu dalam evaluasi operasi SAR, Rabu (23/09).
Menurut Putu, Basarnas bertugas melakukan pencarian dan evakuasi korban sesuai prosedur operasi serta memastikan keselamatan seluruh personel yang terlibat.
Sementara itu, menurut Putu, operasi salvage menjadi kewenangan dan tanggung jawab pemilik kapal serta pihak asuransi kapal itu sendiri.
Meski demikian, Basarnas tetap memantau proses salvage. Putu mengatakan pencarian dan evakuasi korban akan terus dilakukan selama operasi salvage belum berjalan.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Rizal Hanafi.
"Selama operasi salvage itu belum dilaksanakan, kami tetap akan melaksanakan evakuasi," kata dia.
Putu mengatakan, semakin cepat operasi salvage dilaksanakan, maka semakin baik.
"Kalau menurut kami sebenarnya (operasi salvage) harus disegerakan."
"Jadi kita bisa evakuasi sebanyak mungkin. Kapalnya diangkat, lalu dibalikan. Tentunya, kita akan lebih mudah evakuasinya."

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Rizal Hanafi
Di tempat yang berbeda, Kepala Cabang PT Virgo Karya Shipping Banjarmasin, Dwi, belum bisa memastikan kapan operasi salvage dilaksanakan.
Hal itu disampaikan dalam konferensi pers di RS Bhayangkara Banjarmasin, Selasa (22/9).
"Untuk progres terkait salvage, kita masih menunggu arahan dari manajemen kembali, Pak," kata Dwi.
Menurut dia, perusahaan belum dapat mengeluarkan pernyataan mengenai rencana tersebut karena masih menunggu keputusan dari pimpinan.
"Jadi kita masih belum bisa untuk mengeluarkan statement ini karena kita pun juga masih menunggu arahan dari pimpinan kami untuk selanjutnya," ujarnya.
Dalam laporan terakhir BBC Indonesia, tim salvage sebetulnya sudah mulai melakukan survei-survei terhadap badan KMP Virgo.
Tim sudah menggunakan remotely operated vehicle (ROV) untuk mengetahui posisi serta kondisi badan kapal.
Survei tersebut menjadi tahap awal untuk menentukan langkah teknis pengangkatan badan KMP Virgo ke permukaan.
Kepala Basarnas Mohammad Syafii sebelumnya mengatakan tim ahli dari luar negeri seperti AS dan China bersama tenaga ahli dalam negeri akan melakukan observasi dan asesmen terhadap kondisi kapal.
Kemudian, Direktur Operasi Basarnas, Laksmana Pertama TNI Yudhi Bramantyo Nur Sasongko bilang kalau operasi salvage membutuhkan waktu yang cukup panjang, hal ini ia sampaikan pada hari ke-7 operasi SAR KM Virgo lalu.
Menhub copot Dirjen Perhubungan Laut
Sementara itu, Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi mengganti Direktur Jenderal Perhubungan Laut (Dirjen Hubla) Muhammad Masyhud.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik (BKIP) Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Farida Makhmudah mengatakan, pergantian tersebut merupakan bagian dari evaluasi dan penyegaran organisasi.
"Iya [ada pergantian], saat ini sudah ditunjuk Plt-nya," kata Farida di Jakarta, Jumat (18/09), seperti dikutip Kompas.com.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Bayu Pratama S
Evakuasi korban terus dilakukan
Seperti dilaporkan jurnalis di Banjarmasin, Kalsel, Donny Muslim, kapal MT. Mauhaw IX tiba sekitar pukul 05.40 WITA, Senin (14/09), di pelabuhan Trisakti.
Proses evakuasi korban dari kapal tersebut dilakukan sekitar pukul 06.30 WITA.
Sebanyak 16 orang dibawa kapal tersebut, terdiri dari 15 orang selamat dan satu orang meninggal dunia dengan identitas MR. X.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Bayu Pratama

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Bayu Pratama

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Bayu Pratama
Data pada Senin (14/09) yang dirilis Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan juga menyebutkan, kapal MT. Mauhau mengevakuasi 15 orang selamat dan satu meninggal.
Dilaporkan pula bahwa Kapal TB. TCP sebelumnya sudah mengevakuasi satu orang selamat dan lima lainnya kondisi meninggal dunia.
Sementara Kapal MV. Haida telah mengevakuasi 69 korban selamat.
Kapal lainnya, Cahaya Bahari Jaya dilaporkan sudah mengevakuasi 22 orang korban selamat.
Dan, kapal nelayan Sri Asih disebutkan berhasil mengevakuasi satu orang selamat.

Sumber gambar, Donny Muslim
Sementara itu, KN SAR Laksmana 241 lebih dulu tiba di Pelabuhan Trisakti sekitar pukul 04.21 WITA dengan membawa satu orang korban.
Para korban yang selamat selanjutnya mendapat penanganan medis di kawasan Pelabuhan Trisakti Banjarmasin.
Proses evakuasi terhadap penumpang dan kru Virgo Transport masih dilakukan oleh tim SAR.
Data jumlah korban terus diperbarui seiring berlangsungnya proses pencarian dan evakuasi.
Terbalik di Laut Jawa
Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Banjarmasin menerima laporan terkait kapal Virgo Transport 8 yang hilang kontak dalam pelayaran dari Surabaya menuju Banjarmasin, Minggu (13/09).
Kapal tersebut membawa sebanyak 243 orang.

Sumber gambar, Donny Muslim
Posko Operasi SAR untuk penanganan kecelakaan Virgo Transport 8 didirikan di kawasan Pelabuhan Trisakti, Minggu (13/09) pagi.
Pantauan di lokasi, keluarga penumpang dan awak kapal mulai berdatangan ke posko. Mereka terlihat menunggu informasi terbaru mengenai kondisi kerabat yang berada di dalam kapal.
Bagaimana kronologi kejadian?
Informasi kejadian diterima Kantor SAR Banjarmasin pada Minggu (13/09) pukul 04.10 WITA dari Yoel Rihi selaku General Manager PT Virgo.
Berdasarkan informasi yang diterima kantor SAR Banjarmasin, kapal Virgo Transport 8 hilang kontak pada Minggu (13/09) sekitar pukul 02.00 WITA setelah dilaporkan menghadapi cuaca buruk dalam perjalanan menuju Banjarmasin.

Sumber gambar, Reuters
Kapal Virgo Transport 8 diketahui berangkat dari Surabaya pada Sabtu (12/09) pukul 10.13. Hingga laporan diterima, kapal belum dapat dihubungi dan keberadaannya belum diketahui.
Menurut kantor SAR Banjarmasin, posisi terakhir kapal itu berada di perairan Laut Jawa, dengan jarak sekitar 80 mil laut dari Dermaga SAR Basirih, Banjarmasin.
Menindaklanjuti laporan tersebut, Kantor SAR Banjarmasin memberangkatkan satu regu penyelamat berjumlah enam personel menuju Dermaga SAR Basirih, pada Minggu (13/09) pukul 04.30 WITA.
Tim selanjutnya akan melanjutkan perjalanan menuju lokasi perkiraan posisi terakhir menggunakan KN SAR Laksmana 241, dengan estimasi waktu tempuh sekitar lima jam.

Sumber gambar, Vessel Finder
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Banjarmasin melalui SAR Mission Coordinator (SMC), I Putu Sudayana, menyampaikan bahwa pencarian akan dilakukan secara optimal dengan melibatkan seluruh unsur terkait.
"Mengingat jumlah penumpang dan awak kapal yang cukup banyak, kami mengoptimalkan koordinasi dengan seluruh unsur terkait untuk mempercepat proses pencarian dan memastikan keselamatan seluruh penumpang serta awak kapal," ujar I Putu Sudayana

Sumber gambar, Vessel Finder
Sementara Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Mohammad Syafii mengatakan KM Virgo terkonfirmasi tenggelam.
Menurut Syafii, sebelum kondisi kapal memburuk, awak kapal telah melaporkan kepada perusahaan bahwa mereka menghadapi cuaca buruk.
"Pada saat kapal mengalami kondisi menghadapi cuaca buruk, dari awak kapal sudah menyampaikan kepada perusahaan bahwa kapal mengalami atau menghadapi cuaca yang tidak baik," kata Syafii dalam konferensi pers di Pelabuhan Trisakti Banjarmasin, Minggu sore.
Beberapa jam kemudian, kondisi kapal dilaporkan mengalami perubahan center of gravity atau kemiringan.
Pada saat itu, kapal mengirimkan broadcast bahwa mereka membutuhkan bantuan. Awak kapal juga mengaktifkan perangkat darurat EPIRB yang tersedia di kapal untuk meminta pertolongan.
Syafii mengatakan posisi lokasi kejadian menjadi salah satu tantangan dalam proses penanganan. Dari Banjarmasin, lokasi tersebut membutuhkan waktu tempuh sekitar enam jam.
"Namun yang ingin saya sampaikan kepada rekan-rekan bahwa posisi lokasi kejadian kalau ditempuh dari Banjarmasin memakan waktu kira-kira 6 jam," ujarnya.
Setelah menerima informasi tersebut, Kantor SAR Banjarmasin yang memiliki kewenangan di wilayah perairan kejadian melakukan analisis cepat dan melaporkannya kepada Basarnas Command Center.
Basarnas Command Center kemudian mendeklarasikan adanya kondisi kedaruratan kepada seluruh pengguna lalu lintas laut di kawasan Laut Jawa agar dapat memberikan bantuan terhadap kapal yang mengalami keadaan darurat.
Syafii mengatakan operasi pencarian dan pertolongan kemudian digelar dengan melibatkan berbagai unsur.
"Mohon dukungan teman-teman media, mohon doa dari seluruh rakyat Indonesia mudah-mudahan operasi ini bisa kita laksanakan dengan baik dan bisa mengevakuasi seluruh korban," kata Syafii.
Berdasarkan data dua situs pemantauan kapal, Vessel Finder dan Marine Traffic, posisi terakhir KM Virgo Transport 8 berada di perairan Banjarmasin, Kalimantan Selatan.
Data itu menyebut, kapal Virgo Transport 8 berangkat dari Surabaya pada Sabtu (12/09) pukul 10.33 WIB dan dijadwalkan tiba di Banjarmasin pada Minggu (13/09) pukul 14.00 WIB.
Masih berdasarkan data situs pemantauan kapal, KM Virgo Transport 8 sebelumnya bernama Ferry Kurushima. Kapal itu rampung dibuat di galangan kapal Shin Kurushima Onishi pada 1987.
Di Jepang, kapal itu terakhir kali melayani penumpang antara Pelabuhan Kokura dan Pelabuhan Matsuyama, pada 30 Juni 2025.
'Langsung tiba-tiba miring'
Siprianus sedang tidur ketika badan KM Virgo mulai miring. Kejadiannya pukul satu dini hari. Sebagian besar penumpang sedang terlelap.
"Kalau saja awak kapal tekan alarm bahaya, kami penumpang bisa tahu. Tapi tidak ada informasi sama sekali. Langsung tiba-tiba miring," ucapnya.
Tanpa pikir panjang, Siprianus seketika mencari orang-orang yang dia kenal. Situasi sudah tegang. Para penumpang berteriak dan berupaya menyelamatkan diri.
Siprianus juga melakukan hal yang sama. Tapi, di sekitarnya tidak ada pelampung.
Di tengah kapal yang semakin limbung, Agus menemukan sekoci. Dia kemudian melompat ke atasnya.
Selama kurang lebih sembilan jam rombongan Siprianus terombang-ambing di tengah lautan.
Siprianus seharusnya ke Banjarmasin dalam rangka menuntaskan pekerjaan ekspedisi. Rencana itu buyar. Peristiwa terbaliknya kapal membikin nyawanya di ujung tanduk.
"Banyak orang meninggal. Banyak orang masih tidur di dalam [kapal]," tuturnya.
'Mudah-mudahan lekas ditemukan'
Suasana Pelabuhan Trisakti Banjarmasin semakin sibuk, Minggu (13/9/2026), menyusul proses evakuasi korban kapal Virgo Transport 8 yang hilang kontak di perairan Laut Jawa.
Rusmilawati, warga Banjarmasin, datang mencari kabar delapan kerabatnya yang menumpang kapal tersebut. Mereka dalam perjalanan kembali ke Banjarmasin setelah berziarah ke sejumlah makam ulama di Jawa.
"Awalnya berangkat pakai pesawat, baliknya handak mencoba pakai kapal," ujarnya.
Hingga Minggu siang, Rusmilawati mengatakan belum menerima informasi dari petugas mengenai apakah delapan kerabatnya termasuk dalam penumpang yang telah dievakuasi.
Keluarga terakhir kali mendapat kabar dari salah satu kerabat melalui status WhatsApp. Dalam unggahan tersebut, kerabatnya menulis, "Ngeri banar ombaknya malam ini. Atau dasar kaya itu kah lah bekapal baguyangan bahantam lawan kapal."
Rusmilawati berharap delapan kerabatnya selamat dan segera mendapatkan kabar.
"Mudahan-mudahan selamat saja," ucapnya.

Sumber gambar, Donny Muslim
Di sisi lain, suasana haru terlihat ketika Misnah mendapat kabar suaminya, Ahmad Supandi, selamat. Ahmad merupakan sopir ekspedisi yang berada di dalam Virgo Transport 8 dan kemudian dievakuasi menggunakan MV Haida.
Misnah menangis haru setelah mengetahui suaminya termasuk korban yang berhasil dievakuasi.
Sedangkan anggota keluarga yang lain masih menanti kepastian.
Jenah, misalnya, menyatakan bahwa sang kakak turut menaiki Kapal Virgo Transport 8.
Sang kakak, Jenah menceritakan, tengah merantau ke Madura, Jawa Timur. Malam kemarin, dia memutuskan untuk balik ke Banjarmasin.

Sumber gambar, Donny Muslim
Terakhir kali Jenah berkontak dengan sang kakak adalah sebelum berangkat. Ketika Jenah kembali menghubunginya, pesannya hanya centang satu.
"Mudah-mudahan cepat ditemukan," tegasnya.
'Apa pun keadaannya saya harap ditemukan'
Sementara di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, keluarga kru Kapal Virgo Transport 8 mencari informasi mengenai keberadaan anggota keluarganya.
Salah seorang keluarga kru, Fredy, warga Mojokerto, mengatakan adik kandungnya yang bungsu, Stevie Manuhua, merupakan pemain keyboard atau organ hiburan di atas kapal KM Virgo Transport 8.
Fredy menyebut, komunikasi terakhir dengan Stevie terjadi sekitar dua hari lalu, saat kapal masih bersandar di Surabaya. Setelah itu, ia mengaku tidak lagi mendapatkan kabar.
"Di komunikasi dua hari lalu Pak, sandar di Surabaya, setelah itu tidak ada kabar lagi sampai sekarang," ujar Fredy.
Fredy mengaku hingga kini belum mendapatkan informasi mengenai kondisi kapal maupun keberadaan adiknya. Ia masih menunggu informasi resmi dari pihak terkait.
"Belum, belum ada. Belum ada masuk. Saya masih tunggu dari pihak yang bersangkutan untuk ngasih info ke kita," katanya.
Menurut Fredy, informasi mengenai kejadian tersebut pertama kali diterimanya dari seorang teman yang mengetahui adanya peristiwa di kapal. Setelah itu, ia menghubungi sejumlah rekannya dan diarahkan untuk datang ke Pelabuhan Tanjung Perak guna mencari informasi lebih lanjut.
Fredy berharap adiknya dapat segera ditemukan dalam kondisi apa pun.
"Semoga bisa ditemukan. Apa pun keadaannya saya harap bisa ditemukan," ungkapnya.

Sumber gambar, Roni Fauzan
Ia mengatakan Stevie selama bekerja sebagai pemain musik di kapal kerap datang ke rumah sebelum berangkat bekerja. Jika mendapat pekerjaan di kapal, Fredy biasanya mengantarkan langsung adiknya menuju kapal. Begitu pula saat sedang cuti, Stevie akan kembali ke rumah.
Fredy menuturkan Stevie merupakan kru laki-laki yang sudah bekerja di kapal tersebut. Sebelumnya, Stevie bekerja di kapal DLN Mandalika sebelum kemudian berpindah ke KM Virgo Transport 8.
Hingga kini, Fredy bersama keluarga masih menunggu informasi resmi mengenai kondisi Stevie Manuhua serta penumpang dan kru KM Virgo Transport 8 lainnya.
Diselamatkan nelayan
Selain keluarga kru Stevie Manuhua, keluarga penumpang KM Virgo Transport 8 juga mendatangi Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya untuk mencari informasi mengenai keberadaan anggota keluarganya.
Salah satunya Istiana, warga Sidoarjo, yang datang ke Pelabuhan Tanjung Perak untuk mencari informasi mengenai keponakannya, Dede Farandika (29), warga Banyuwangi yang tercatat sebagai penumpang KM Virgo Transport 8.
Istiana mengaku pertama kali mendapat informasi mengenai kejadian tersebut dari keluarganya yang berada di Banyuwangi. Ia kemudian datang ke Surabaya karena lokasi Pelabuhan Tanjung Perak lebih dekat dengan tempat tinggalnya.

Sumber gambar, Roni Fauzan
Namun, saat berada di lokasi, Istiana mendapat kabar terbaru bahwa Dede Farandika telah ditemukan dan disebut diselamatkan oleh nelayan.
"Katanya saya sudah diselamatkan sama nelayan," ujar Istiana.
Istiana mengatakan dirinya juga telah berkomunikasi dengan keluarga di Banyuwangi. Setelah mendapat informasi tersebut, ia diminta untuk kembali pulang.
"Jadi saya sekarang sudah disuruh pulang sama yang Banyuwangi," katanya.
Menurut Istiana, nama Dede Farandika juga tercantum dalam daftar penumpang yang berkaitan dengan KM Virgo Transport 8. Ia menyebut Dede sebagai ABK di bagian dek kapal tersebut selama sekitar dua hingga tiga tahun terakhir.
Pemerintah akan lakukan investigasi
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi memastikan kecelakaan KMP Virgo Transport 8 di perairan Laut Jawa akan diinvestigasi secara menyeluruh oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).
Dudy mengatakan investigasi dilakukan untuk mengetahui penyebab kecelakaan sekaligus menjadi dasar perbaikan sistem keselamatan transportasi.
"Terkait penyebab terjadinya musibah ini, pemerintah akan melakukan investigasi secara menyeluruh. Proses tersebut akan dilaksanakan oleh KNKT sesuai dengan kewenangannya," kata Dudy saat konferensi pers di Pelabuhan Trisakti Banjarmasin, Minggu (13/9) sore.
Dudy meminta seluruh pihak memberikan kesempatan kepada KNKT untuk menjalankan investigasi secara profesional dan independen.
Menurutnya, hasil investigasi nantinya diharapkan menjadi dasar untuk memperbaiki aspek keselamatan transportasi.

Sumber gambar, Donny Muslim
Insiden transportasi laut di Indonesia sepanjang 2026 bukan kali ini saja terjadi.
Juli lalu, KM Nurul Salsa tenggelam di perairan sebelah barat Pulau Polassi, Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan.
Korban selamat yakni 58 orang, sementara tiga lainnya ditemukan meninggal dunia. Sisanya, 14 orang, belum diketahui keberadaannya.
Data Mahkamah Pelayaran Kementerian Perhubungan menunjukkan sepanjang periode 2020 sampai 2026 tercatat telah muncul 111 kejadian kecelakaan kapal.
Dari total itu, peristiwa tubrukan merupakan jenis kecelakaan yang mendominasi dengan 40 kasus (36%), disusul tenggelam sebanyak 28 kasus (24%), kandas 24 kasus (22%), serta kebakaran 20 kasus (18%).
Kenapa kasus tenggelamnya kapal kerap terjadi?
Pakar transportasi laut dan Dekan Fakultas Teknologi Kelautan Institut Teknologi Surabaya, Setyo Nugroho, menyebut faktor manusia bertanggung jawab paling besar atas mayoritas kecelakan kapal di Indonesia.
"Hampir 90% kecelakaan kapal terjadi karena kelalaian manusia," kata Setyo sebagaimana dikutip dari situs universitas tersebut.
Analisis Setyo berangkat dari peristiwa tenggelamnya KMP Tunu Pratama Jawa di perairan Selat Bali pada 2025 kemarin.
Alumnus Magister Delft University of Technology, Belanda ini juga mengatakan kelalaian berwujud dari mulai kurangnya pemeliharaan pada mesin sampai dengan tidak dilakukannya perhitungan stabilitas muatan.
"Dari faktor kelalaian manusia tersebut, sebanyak 80%-nya terjadi karena muatan yang tidak ditangani dengan benar," ujar Setyo.
Meski begitu peran cuaca ekstrem juga tidak dapat diabaikan. "Cuaca yang tidak stabil menyebabkan tingginya gelombang air laut yang membahayakan kapal."
Oleh karena itu katanya adalah penting untuk mengevaluasi standar operasional pelayaran, termasuk prosedur pemuatan, perawatan kapal, hingga pengelolaan navigasi.
Tidak hanya itu, sistem manajemen muatan pun perlu diperbaiki agar setiap kapal memuat sesuai kapasitas dan stabilitasnya diperhitungkan secara akurat.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Bayu Pratama S
Menyambung tentang cuaca, dosen dan praktisi infrastruktur serta transportasi Universitas Hasanuddin, Lucky Caroles, bilang bahwa tak jarang kapal tetap melaju meski sudah terdapat peringatan tentang adanya ketinggian gelombang.
Lucky berkaca dari peristiwa tenggelamnya KM Nurul Salsa di perairan Sulawesi pada tahun ini.
Lucky menyoroti bagaimana akar masalah kecelakaan kapal ialah belum ada kesadaran untuk membuat suatu manajemen yang dapat meminimalkan kecelakaan. Misalnya, melakukan kontrol dan memperketat penyeberangan.
"Biasanya kalau sudah terjadi kecelakaan baru kita ribut," tegasnya.
Lucky bilang faktor keselamatan penumpang kapal juga dapat diukur dengan jumlah jaket pelampung yang tersedia di atas kapal, serta teknologi yang dapat mendeteksi kecepatan arah angin, ketinggian gelombang, adanya kebocoran, hingga melaporkan posisi kapal.
Untuk dapat mencegah kasus kecelakaan macam yang dialami kapal KM Nurul Salsa tersebut terulang, kata Lucky, hal yang dapat dilakukan adalah dengan mematuhi semua regulasi terkait keselamatan dan mitigasi kecelakaan.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Bayu Pratama S
Komite Nasional dan Keselamatan Transportasi (KNKT) menyoroti bahwa persoalan kecelakaan kapal merupakan masalah sistemik, sehingga langkah preventifnya tidak dapat dilakukan secara terpisah-pisah.
Dalam kasus tenggelamnya Kapal Tunu Pratama Jaya di Selat Bali, KNKT meminta sejumlah pihak untuk menempuh evaluasi.
Untuk KSOP Kelas II Tanjung Wangi, misalnya, KNKT meminta mereka membuat petunjuk teknis penundaan pelayanan Kapal Angkutan Penyeberangan (KAP) dengan memperhatikan cuaca buruk di perairan Pelabuhan Ketapang, Pelabuhan Gilimanuk, dan Selat Bali.
Kemudian untuk Direktorat Jenderal Perhubungan Laut, KNKT mendesak adanya kajian mengenai kondisi gelombang di perairan yang terdapat lintasan penyeberangan Kapal Angkutan Penyeberangan, terutama di Selat Bali.
Lalu untuk penyedia jasa kapal sendiri, PT Raputra Jaya, KNKT meminta supaya mereka memperbaiki akurasi sistem manifes kapal, di samping rekomendasi yang sifatnya teknis seperti mematuhi ketentuan garis muat kapal terkait pemuatan kendaraan.
Berita akan diperbarui secara berkala.



































