Partai Demokrat kalahkan Partai Republik pada pemilu sela, kuasai DPR dan Senat

Sumber gambar, Reuters
- Penulis, Anthony Zurcher
- Peranan, Koresponden Amerika Utara
- Telah diterbitkan
- Waktu membaca: 5 menit
Kemenangan Partai Demokrat di sejumlah negara bagian yang selama puluhan tahun dikuasai Partai Republik menandai pergeseran besar dalam politik Amerika Serikat sekaligus memberi pukulan telak bagi Presiden Donald Trump.
Salah satu contoh kemenangan dahsyat Partai Demokrat yang menggulingkan Partai Republik dari kekuasaan adalah di Kansas. Negara bagian itu berhasil direbut Partai Demokrat setelah selama hampir satu abad dikuasai Partai Republik.
Begitu pula dengan Texas yang selama ini menjadi basis kekuatan partai berlambang gajah tersebut.
Berkat rentetan kemenangan itu, Partai Demokrat kini memegang kendali atas Dewan Perwakilan Rakyat (House of Representatives) dan Senat.
Mereka akan mampu menghambat berbagai agenda Trump serta meluncurkan berbagai penyelidikan terhadap pemerintahannya. Upaya pemakzulan (impeachment) ketiga yang bersejarah juga berpotensi menjadi kenyataan.
Hanya sedikit orang yang membayangkan hasil seperti itu mungkin terjadi mengingat Trump menjadi presiden dengan dukungan penuh Partai Republik yang menguasai Kongres pada Januari 2025.
Baca juga:
Dalam komentarnya kepada CBS, yang merupakan mitra BBC di AS, Trump berjanji mencapai kesepakatan dengan anggota Kongres dari Partai Demokrat. Dia menambahkan bahwa dirinya tidak ingin menghabiskan dua tahun terakhir masa jabatannya untuk menolak rancangan undang-undang mereka.
Namun, dia kemudian mengunggah foto ke Truth Social yang menampilkan topi bisbol merah khasnya dengan tulisan "veto".
Trump kemudian mencatat bahwa namanya tidak ada dalam surat suara tahun ini. Jika ada, menurutnya, Partai Republik akan meraih kemenangan telak.
Trump telah membantu mendongkrak popularitas banyak kandidat Partai Republik, dan mewanti-wanti para pemilih untuk memilih kandidat partai tersebut seolah-olah dirinya akan mencalonkan lagi sebagai presiden.

Sumber gambar, Allison Joyce/Getty Images
Di Senat, Partai Demokrat berhasil merebut setidaknya enam kursi, mengamankan kursi mayoritas.
Adam Hamilton menang di Kansas—sebuah negara bagian yang terakhir kali memilih seorang kandidat Partai Demokrat untuk kursi Senat pada 1932.
James Talarico mengalahkan kandidat Partai Republik, Ken Paxton, dalam pemilihan Senat Texas. Talarico mengakhiri kekalahan beruntun Partai Demokrat selama 38 tahun dalam pemilihan tingkat negara bagian.
Di Negara Bagian South Carolina, Annie Andrews mengalahkan Darline Graham, yang telah ditunjuk untuk menduduki kursi tersebut setelah kematian saudara laki-lakinya, Senator Lindsey Graham. Beberapa bulan yang lalu, hanya sedikit analis yang memperkirakan kursi itu akan diperebutkan.
Susan Collins, anggota Partai Republik yang telah menjabat selama lima periode, mengakui kekalahannya dari Troy Jackson—kandidat Partai Demokrat—dalam pemilihan anggota Senat di Negara Bagian Maine.

Sumber gambar, Chip Somodevilla/Getty Images
Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.
Klik di sini
Akhir dari Whatsapp
Atlet Paralimpiade, Josh Turek, berhasil merebut kursi Senat dari Negara Bagian Iowa yang sebelumnya dipegang oleh Senator Republik, Joni Ernst.
Partai Demokrat juga merebut kursi Senat di Negara Bagian Ohio dari Partai Republi berkat kemenangan Sherrod Brown atas Jon Husted.
Sementara itu, kandidat Demokrat, Abdul El-Sayed, tampaknya akan mengalahkan kandidat Republik, Mike Rogers, dalam pemilihan anggota Senat dari Negara Bagian Michigan.
Itu bukanlah akhir dari "pembantaian elektoral" bagi Partai Republik.
Texas yang dikenal sebagai basis kekuatan Partai Republik mengalami guncangan besar dalam pemilihan gubernur.
Calon dari Partai Demokrat, Gina Hinojosa, menggulingkan petahana dari Partai Republik, Greg Abbott, yang sebelumnya dianggap sebagai favorit utama.
Partai Demokrat juga mencatat sejarah dalam pemilihan gubernur Georgia. Kandidat mereka, Keisha Lance Bottoms, terpilih sebagai gubernur perempuan kulit hitam pertama di AS.
Dalam perebutan kursi di DPR, Partai Demokrat meraih kursi mayoritas untuk pertama kalinya sejak 2022.
Mereka diproyeksikan menduduki 245 kursi di DPR, sedangkan Partai Republik meraih 166 kursi.

Sumber gambar, Andrew Harnik/Getty Images
Ketika melihat hasil pemilu selama, ada beberapa faktor yang menjelaskan keunggulan Partai Demokrat.
Partai berlambang keledai itu berhasil merebut kursi DPR di Texas, North Carolina, Pennsylvania, Iowa, Kentucky, dan Colorado. Mereka juga diproyeksikan meraih kemenangan di Virginia dan Indiana.
Para pemilih kulit hitam di kawasan selatan AS berbondong-bondong datang ke tempat pemungutan suara dalam jumlah yang belum pernah terjadi sebelumnya, membantu Partai Demokrat menuju kemenangan.
Kemudian para pemilih Hispanik, yang dukungannya telah membantu mengamankan kemenangan presiden Trump pada 2024, justru beralih kembali ke Partai Demokrat.
Partai Demokrat memenangkan pemilihan Dewan Perwakilan Rakyat di distrik-distrik yang mayoritas penduduknya Hispanik di sepanjang perbatasan Texas-Meksiko.
Lalu para pemilih Hispanik membantu Partai Demokrat mempertahankan kursi DPR di Florida, yang sebelumnya ingin direbut oleh Partai Republik dengan mengubah batas-batas distrik.
Pada kenyataannya, penataan ulang daerah pemilihan yang telah mendominasi berita utama selama berbulan-bulan tahun lalu akhirnya menjadi kekalahan bagi Partai Republik.
Di Texas, mereka berharap penetapan batas daerah pemilihan akan menghasilkan lima kursi baru untuk partai mereka. Namun pada pemilu sela mereka mungkin malah kehilangan satu kursi.
Jika ada sisi positif bagi kelompok konservatif, Florida secara keseluruhan tampaknya masih condong ke Partai Republik.
Senator Partai Republik, Ashley Moody, memenangkan pemilu sela dengan selisih suara yang tipis. Begitu pula anggota Kongres Byron Donalds, yang terpilih sebagai gubernur kulit hitam pertama di negara bagian Florida.
Dan para politikus Republik mampu mempertahankan jabatan gubernur di Vermont dan New Hampshire.
Namun, kemenangan seperti itu tidaklah banyak.
Padahal dua tahun lalu, Trump memenangkan kursi kepresidenan dengan 48% suara.
Kemudian, ia menjalankan pemerintahan layaknya seorang pemimpin, mendorong kebijakan-kebijakan yang terkadang tidak populer terkait perdagangan dan imigrasi, serta melancarkan perang terhadap Iran yang ditentang oleh sebagian besar masyarakat Amerika.
Para pemilih lantas memberinya pukulan telak yang tidak akan mudah dia lupakan.
Kami menggunakan AI untuk membantu menerjemahkan artikel ini, yang awalnya ditulis dalam bahasa Inggris. Jurnalis BBC memeriksa terjemahan tersebut sebelum diterbitkan. Selengkapnya tentang bagaimana kami menggunakan AI.






























