Anda sedang melihat versi teks saja dari situs web ini yang menggunakan lebih sedikit data. Lihat versi utama situs web yang menyertakan semua gambar dan video.
Seekor hiu tersesat mencuri perhatian jutaan warga Korea Selatan – Akankah ia akhirnya kembali ke laut?
- Penulis, Jake Kwon
- Peranan, Seoul correspondent
- Melaporkan dari, Busan, South Korea
- Telah diterbitkan
- Waktu membaca: 8 menit
Begitu seekor hiu berukuran besar terlihat di sebuah kanal di Busan, kota pelabuhan yang sibuk sekaligus destinasi pantai di ujung tenggara Korea Selatan, ahli biologi kelautan Kim Hyun-woo langsung diminta memimpin upaya penyelamatannya.
Ia menerima panggilan itu pada pertengahan September, saat sedang dalam perjalanan pulang dari tugas memantau kawanan ikan makarel untuk membantu kapal-kapal penangkap ikan.
Meski dikenal sebagai salah satu pakar hiu terkemuka di Korea Selatan, Kim tidak pernah menyangka penjaga pantai akan memintanya benar-benar menyelamatkan seekor hiu.
Korea Selatan bukanlah negara yang asing dengan keberadaan hiu.
Tapi hiu sebesar ini yang muncul di kanal dangkal berdinding beton, tepat di dekat pelabuhan tersibuk ketujuh di dunia, adalah sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Dengan kerumunan warga yang antusias mulai berkumpul di tepi kanal, tim Kim dari National Institute of Fisheries Science harus bergerak cepat.
Tugas pertama mereka adalah mengidentifikasi spesies hiu tersebut.
Sebagian spesies hiu lebih berbahaya daripada yang lain.
Hiu putih besar (great white shark), yang menjadi ikon film Jaws pada 1975, dikenal pernah menyerang dan membunuh manusia.
Hiu yang ditemukan di Busan kemudian dipastikan merupakan hiu kelabu (dusky shark) betina, spesies yang hanya pernah dikaitkan dengan dua serangan mematikan terhadap manusia.
Meski demikian, Kim khawatir ada orang dari kerumunan yang melompat atau terjatuh ke dalam kanal.
Hiu itu harus dikembalikan ke laut.
Sebuah kapal kecil penjaga pantai mula-mula mencoba mengusir hiu itu dengan menggunakan perangkat penghalau listrik yang menghasilkan arus lemah, jenis teknologi yang biasanya dihindari oleh hiu.
Perangkat semacam itu umumnya digunakan setelah ada laporan penampakan hiu di dekat pantai-pantai yang ramai dikunjungi.
Tetapi setelah lima jam, para pejabat menyimpulkan bahwa hiu tersebut terlalu besar dan terlalu cepat untuk dapat diarahkan dengan alat itu.
Kim kemudian mengubah strateginya. Ia memutuskan untuk menunggu hiu tersebut menemukan jalan keluar sendiri dari kanal. Namun, hal itu tidak pernah terjadi.
Sementara pihak berwenang mencari cara untuk memandu hiu itu kembali ke laut, hewan yang terjebak tersebut justru menjadi fenomena viral.
Hanya beberapa jam setelah kemunculannya, pemerintah kota mengirimkan pesan peringatan darurat kepada seluruh warga, meminta pejalan kaki dan penduduk setempat untuk "berhati-hati demi keselamatan mereka".
Sebelumnya, taman di sepanjang kanal itu jarang dikunjungi. Namun setelah peringatan tersebut dikirimkan, kawasan itu segera dipenuhi warga yang ingin melihat hiu tersebut dari dekat.
Para penggemarnya lalu memberinya nama Bukangi, yang berasal dari kata "bukhang", nama Korea untuk pelabuhan di dekat lokasi tersebut.
Dalam hitungan hari, sebuah perusahaan mendaftarkan nama itu sebagai merek dagang. Pin, boneka, dan kaus bergambar Bukangi pun mulai dijual secara daring.
Pemerintah kota ikut memanfaatkan popularitas tersebut dengan menayangkan siaran langsung Bukangi dan menjadikannya maskot resmi kota.
Sebuah spanduk dipasang di pintu masuk kanal, mengajak masyarakat menandatangani petisi "atas nama Bukangi" untuk menuntut dukungan pemerintah pusat bagi pembangunan stadion bisbol baru berkapasitas 30.000 penonton di kawasan kanal tersebut.
Upaya memantau keberadaan hiu itu pun menjadi kegiatan bersama warga setempat dan para pengunjung.
Ada aturan tak tertulis bahwa anak-anak mendapat tempat di barisan terdepan, dan siapa pun yang lebih dahulu melihat Bukangi harus menunjukkan lokasinya kepada para pendatang yang baru tiba.
Bahkan, sejumlah warga yang secara sukarela menganggap diri mereka sebagai pelindung Bukangi berpatroli di sepanjang kanal pada malam hari untuk memastikan tidak ada orang yang menyorotkan senter atau laser ke arah hiu tersebut.
Pada akhirnya, lebih dari 1,6 juta orang mendatangi kanal tersebut.
Wali Kota Busan mengatakan kehadiran hiu itu memberikan "publisitas yang bahkan tidak bisa dibeli dengan miliaran dolar" bagi kota pelabuhan tersebut.
"Saat ini sangat jarang orang-orang bisa berkumpul bersama," kata Kim Joo-eun, yang datang untuk melihat hiu itu bersama dua keponakannya.
"Saya merasa Bukangi telah menyatukan kami semua, mendukungnya bersama-sama. Ini sangat menyenangkan."
Baca juga:
Namun, para pejabat tidak bisa membiarkan Bukangi tetap berada di kanal itu.
Menjelang akhir September, hiu tersebut sudah beberapa hari tidak terlihat mencari makan. Ia juga terlihat mengalami lecet berdarah pada moncongnya akibat berulang kali menabrak dinding beton kanal.
Profesor biologi kelautan Choi Yoon, yang cukup dikenal di Korea Selatan, mengatakan kepada media setempat bahwa para ahli terutama mengkhawatirkan adanya cedera "kritis" di sekitar mata hiu tersebut.
Pada akhir September, tim Kim kembali melancarkan upaya penyelamatan.
Ahli biologi kelautan itu merujuk pada insiden yang terjadi di Massachusetts, Amerika Serikat, pada 2004, ketika semburan jet air digunakan untuk mengarahkan seekor hiu putih besar keluar dari kolam dangkal.
Namun ketika metode yang sama dicoba pada Bukangi, hiu itu terus berputar dan kembali ke dalam kanal.
Pada 2 Oktober, tim penyelamat memutuskan memasang jaring yang membentang melintasi lebar kanal untuk mencegahnya kembali masuk.
Akan tetapi, Bukangi berhasil berenang mengitari jaring tersebut dan kembali ke kanal hanya beberapa jam kemudian.
Pada titik ini, Kim mulai menduga hiu tersebut mungkin mengalami gangguan pada sensor elektromagnetik di moncongnya, yang biasa digunakan untuk bernavigasi.
Kemungkinan lain, kata Kim, Bukangi menjadi kebingungan akibat kebisingan yang ditimbulkan kapal-kapal di pelabuhan.
Kementerian Kelautan Korea Selatan menduga alasan Bukangi masuk ke kanal tersebut bisa menjadi salah satu tanda menghangatnya suhu laut.
Menurut kementerian itu, Bukangi kemungkinan mengikuti kawanan ikan yang melimpah ke perairan yang lebih hangat.
Sepanjang paruh pertama tahun ini, sekitar 50 hiu berukuran besar tercatat di perairan pantai timur Korea Selatan, atau empat kali lebih banyak dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Setelah berbagai upaya penyelamatan gagal, sebagian penggemar baru Bukangi mulai menuntut agar hiu itu dibiarkan hidup tenang di kanal tersebut.
Pada Kamis, beberapa di antara mereka datang membawa poster dan meneriakkan slogan seperti, "Biarkan Bukangi hidup tenang" dan "Copot jaring itu."
Ketika seorang petugas keamanan meminta mereka berhenti, seorang pria berteriak, "Aku mencintaimu, Bukangi!"
"Saya terobsesi dengannya," kata Jeong Yo-won, seorang perempuan berusia 40-an tahun.
Ia menyebut hiu tersebut sebagai "sumber harapan dan kebahagiaan" dan bersikeras bahwa, "Saya tidak berpikir kita harus mengusirnya tanpa belas kasihan seperti ini."
Sebagian warga lainnya justru merasa sudah saatnya Bukangi pulang ke habitatnya.
"Saya bisa menatapnya selama berjam-jam karena begitu terpesona olehnya," kata seorang perempuan yang akhirnya berhasil melihat hiu itu pada percobaan ketiganya.
"Saya berharap Bukangi bisa tetap tinggal, tetapi saya lebih ingin ia hidup panjang dan sehat."
Shin Seungmin mengatakan banyak orang bahkan bercanda bahwa pemerintah kota seharusnya "membuatkan kartu identitas resmi untuk Bukangi dan memberinya uang pensiun."
"Ia membawa begitu banyak kegembiraan bagi kami," katanya.
"Tetapi Bukangi seharusnya pergi dan menjalani kehidupan normalnya sebagai seekor hiu."
Bertahan di kanal itu akan sangat membahayakan Bukangi karena suhu yang semakin dingin saat musim gugur tiba, jelas Kim.
Dalam kondisi normal, hiu-hiu biasanya bermigrasi ke perairan yang lebih hangat di wilayah selatan.
"Kanal ini jauh dari apa yang bisa disebut sebagai habitat," tambahnya.
"Hewan liar tidak bisa terus hidup di ruang yang sepenuhnya dibangun untuk manusia."
Seiring meningkatnya perhatian publik terhadap nasib Bukangi, Kementerian Kelautan mengambil alih operasi penyelamatan dari National Institute of Fisheries Science.
Sekitar 40 personel dikerahkan, termasuk penyelam dari akuarium Busan. Seorang dokter hewan juga disiagakan, bersama sebuah ambulans jika sewaktu-waktu para penyelam diserang oleh Bukangi.
Pada Rabu, para penyelam memasang dua lapis jaring, dan Bukangi berhasil digiring keluar dari kanal sempit itu menuju perairan terbuka.
Namun pada malam harinya, hiu tersebut berenang kembali ke kanal setelah menyelam di bawah jaring bagian luar.
Akibatnya, Bukangi terjebak di antara dua lapis jaring tersebut.
Kemudian pada Kamis, tim penyelamat melepas lapisan jaring terluar. Setelah itu, Bukangi terlihat berenang semakin jauh menuju laut lepas.
Meski sesekali masih berputar kembali ke arah kanal, operasi penyelamatan itu pada akhirnya dinyatakan selesai.
Dalam beberapa hari terakhir, Bukangi sudah tidak lagi terlihat, dan para ahli menilai hal itu sebagai pertanda baik.
Profesor Choi meyakini hiu tersebut kemungkinan sedang beradaptasi dengan perairan yang lebih luas dan lebih dalam.
Menurutnya, Bukangi juga kemungkinan belum berenang terlalu jauh dan masih bisa muncul kembali dalam sepekan ke depan.
Namun, Choi tetap mengkhawatirkan cedera yang mungkin dialami hiu itu selama terjebak di kanal.
Kepada media setempat, ia mengatakan Bukangi terus bergesekan dengan dinding kanal sehingga "kulit di moncongnya terkelupas, bahkan hingga sirip dadanya".
Untuk saat ini, warga Korea Selatan masih menanti dengan harap-harap cemas, berharap Bukangi dapat menemukan jalan pulang ke habitat aslinya di laut lepas.
Laporan tambahan oleh Leehyun Choi di Seoul.