Anda sedang melihat versi teks saja dari situs web ini yang menggunakan lebih sedikit data. Lihat versi utama situs web yang menyertakan semua gambar dan video.
Bangkai kapal tertua di dunia ditemukan di lepas pantai Turki setelah tenggelam 4.500 tahun silam
- Penulis, Alison Francis
- Penulis, Rebecca Morelle
- Penulis, Kevin Church
- Peranan, BBC News Science
- Telah diterbitkan
- Waktu membaca: 8 menit
Bangkai kapal tertua di dunia telah ditemukan di lepas pantai Turki, menurut para arkeolog.
Mereka memperkirakan kapal tersebut berusia antara 4.400 hingga 4.700 tahun, berasal dari Zaman Perunggu Awal (Early Bronze Age), yakni pada periode yang hampir bersamaan dengan pembangunan Piramida Agung Giza.
Struktur kayu kapal itu sudah hancur, tetapi guci-guci penyimpanan dari keramik yang diangkutnya ditemukan tergeletak di dasar laut.
Menariknya, beberapa di antaranya masih menyimpan jejak bahan yang pernah dibawa di dalamnya.
Para arkeolog yang menemukan kapal tersebut mengatakan panjangnya sekitar 10 meter dan digunakan sebagai kapal dagang yang mengangkut muatan melintasi Laut Mediterania.
"Bangkai kapal ini bagaikan kapsul waktu di dasar laut," kata Prof. Hakan Öniz dari Universitas Akdeniz, Turki, yang memimpin ekspedisi Asosiasi Arkeologi Mediterania tersebut.
Bangkai kapal itu ditemukan dekat pesisir Pulau Kekova di Antalya, Turki.
Artefak-artefaknya tersebar di lereng bawah laut, hanya sekitar 30 meter di bawah permukaan laut.
Para arkeolog menemukan tiga jangkar batu berukuran besar, serta lebih dari 30 wadah penyimpanan keramik yang dikenal sebagai amphora.
Karena tidak ada bagian kayu kapal yang tersisa, para peneliti tidak dapat menggunakan metode seperti penanggalan radiokarbon, yang mengukur bentuk karbon tertentu dalam material organik, untuk menentukan usia kapal tersebut.
Sebagai gantinya, para arkeolog menganalisis bentuk amphora. Gaya pembuatan tembikar berubah dari masa ke masa, sehingga setiap desain umumnya dapat dikaitkan dengan periode sejarah tertentu.
Keramik yang ditemukan di Kekova memiliki ciri khas berupa dua pegangan, tonjolan di bagian tengah, serta dasar yang datar.
Menurut Öniz, desain tersebut cocok dengan amphora lain yang ditemukan di Mesir dan Timur Tengah, yang diketahui berusia antara 4.400 hingga 4.700 tahun.
"Dengan membandingkan teknik dekorasinya, kami dapat mengatakan dengan pasti bahwa bangkai kapal ini berasal dari Zaman Perunggu Awal. Ini 100%," kata Öniz.
Baca juga:
Para penyelam dalam ekspedisi tersebut mengangkat guci-guci keramik itu ke permukaan, dan kini benda-benda tersebut tengah menjalani proses konservasi secara hati-hati setelah berada di bawah laut selama ribuan tahun.
Dr Karin Sowada, arkeolog dari Macquarie University, Australia, memeriksa amphora tersebut setelah berhasil dievakuasi.
Beberapa di antaranya ditemukan dalam kondisi utuh, dan ia terkejut melihat masih adanya residu kental dan mengilap di bagian dalam wadah.
"Saya melihat ke dalamnya dan hampir pingsan. Saya tidak percaya betapa banyak residu yang masih terlihat. Bukan hanya bercak-bercak kecil... sejumlah besar material itu masih tersisa," katanya.
Tim peneliti kini berupaya mengidentifikasi secara pasti muatan yang dahulu dibawa dalam amphora tersebut.
"Bisa jadi minyak zaitun, bisa juga anggur, atau resin pohon," ujar Sowada.
Namun, menurutnya, ada kemungkinan residu tersebut merupakan hasil dari penggunaan ulang wadah-wadah itu.
"Mungkin saja residu itu sebenarnya merupakan jejak dari penggunaan kembali guci-guci tersebut. Wadah ini sangat besar; bukan barang yang sekali dikirim lalu tidak pernah digunakan lagi. Setelah dikosongkan di tempat tujuan, orang-orang kemungkinan terus memakainya selama bertahun-tahun," jelasnya.
Bangkai kapal beserta muatannya juga memberikan gambaran baru tentang aktivitas perdagangan di dunia kuno.
Para arkeolog mengatakan kapal tersebut memulai pelayarannya dari suatu lokasi di sepanjang pesisir timur Laut Mediterania.
Mereka meyakini kapal itu sedang mengangkut barang dagangan menuju kota kuno Troya, yang kini berada di wilayah barat laut Turki, atau menuju bangsa Minoa di Pulau Kreta.
Temuan ini menunjukkan adanya jaringan perdagangan maritim yang telah berkembang di kawasan Mediterania sejak lebih dari 4.000 tahun lalu, dengan kapal-kapal mengangkut berbagai komoditas antarkawasan yang berjauhan.
Perjalanan laut pada masa itu penuh risiko, terutama di sekitar Pulau Kekova, tempat arus laut dan angin kencang telah menyebabkan banyak kapal karam.
Terdapat ratusan bangkai kapal di kawasan tersebut, dan Asosiasi Arkeologi Mediterania memang mengkhususkan diri dalam pencarian serta penelitian situs-situs kapal karam.
Öniz mengatakan bahwa ketika menyelam di lokasi bangkai kapal itu, hal pertama yang terlintas di benaknya adalah kehidupan orang-orang yang pernah terkait dengan kapal tersebut.
"Kami adalah manusia pertama yang menyentuh benda-benda ini setelah 5.000 tahun.
Kami selalu memikirkan para pelautnya... para pembuat amphora, orang yang memikul amphora itu ke atas kapal, serta para perempuan yang menunggu suami mereka pulang, tetapi sayangnya mereka tidak pernah kembali," ujarnya.
Bangkai kapal tersebut merupakan milik Kementerian Kebudayaan Turki.
Menteri Kebudayaan Turki, Mehmet Nuri Ersoy, mengatakan artefak yang telah berhasil diangkat akan dipamerkan di Museum Arkeologi Bawah Laut Mediterania yang baru di Antalya, setelah museum itu dibuka dalam beberapa bulan mendatang.
Penemuan di Kekova kini menempati posisi teratas dalam daftar bangkai kapal tertua yang pernah ditemukan di dunia.
Sebelumnya, rekor tersebut dipegang oleh bangkai kapal yang ditemukan di lepas pantai Pulau Dokos, Yunani selatan, yang diperkirakan berusia sekitar 4.200 tahun.
Sementara itu, bangkai kapal tertua yang ditemukan dalam kondisi relatif utuh, dengan struktur kayunya masih terawetkan, ditemukan di Laut Hitam di lepas pantai Bulgaria. Kapal tersebut diperkirakan berusia sekitar 2.400 tahun.