Yordania memburu pelaku serangan bersenjata di gereja Ortodoks yang menewaskan sembilan orang – Apa yang diketahui sejauh ini?

    • Penulis, Jamie Whitehead
    • Penulis, Jacob Phillips
    • Penulis, BBC Arabic
  • Telah diterbitkan
  • Waktu membaca: 8 menit

Raja Yordania, Abdullah II telah memerintahkan aparat keamanan untuk bertindak tegas dan memburu pihak-pihak yang bertanggung jawab atas serangan terhadap sebuah gereja di Provinsi Karak yang menewaskan sembilan orang dan melukai 40 lainnya.

Sementara, Patriarkat Ortodoks Yunani Yerusalem mengutuk serangan tersebut, seraya menegaskan bahwa insiden tersebut tidak akan merusak persatuan antara umat Muslim dan Kristen di Yordania.

Dalam pernyataannya, Patriarkat menyebut jika tujuan serangan itu adalah mengusir komunitas Kristen dari tanah mereka, maka hal itu justru akan semakin memperkuat keterikatan mereka terhadap tanah tersebut.

Secara terpisah, Raja Abdullah II menegaskan "tidak ada ruang untuk kelonggaran ketika menyangkut nyawa warga Yordania".

Dia berjanji akan memburu para pelaku serangan bersenjata tersebut.

Pernyataan itu disampaikannya saat memimpin rapat Dewan Keamanan Nasional.

Serangan itu menyasar para pelayat dalam upacara pemakaman di sebuah gereja Ortodoks Yunani pada Jumat (23/10).

Raja menggambarkan serangan itu sebagai "aksi teror yang memalukan dan asing bagi nilai-nilai ksatria serta keharmonisan Yordania".

"Keamanan dan keselamatan warga Yordania adalah garis merah," tegasnya.

Dan, "tangan keadilan akan menjangkau setiap teroris".

Dia juga menekankan bahwa serangan tersebut tidak akan mengintimidasi rakyat Yordania maupun menggoyahkan persatuan nasional negara itu.

Raja memerintahkan aparat keamanan untuk memburu dan menuntut pertanggungjawaban para pelaku, serta melawan penyebaran rumor dan informasi menyesatkan yang dapat memicu ketakutan dan perpecahan.

Hingga Minggu (26/10), aparat keamanan masih memburu para pelaku.

Jurnalis BBC Arabic, Majdi Qassous, melaporkan adanya pos-pos pemeriksaan di jalan yang menghubungkan Karak dengan ibu kota Amman.

Pasukan keamanan menghentikan kendaraan dan memeriksa identitas para penumpangnya, terutama laki-laki.

Korban tewas akibat penembakan yang menargetkan gereja Ortodoks Yunani di Desa Hammoud kini berjumlah sembilan orang, menurut data terbaru.

'Suara tembakan terdengar sangat keras'

Tim BBC Arabic yang mengunjungi Rumah Sakit Militer Pangeran Ali di Karak pada Sabtu (24/10) pagi mewawancarai sejumlah korban luka yang tengah menjalani perawatan.

Salah seorang saksi, Nadia Halsa, menggambarkan peristiwa itu sebagai "gempa bumi".

Dia mengatakan suara tembakan terdengar sangat keras.

Ketika keluar dari gereja untuk mencari putranya, dia mendapati sejumlah korban tergeletak di halaman gereja.

Saksi lain, Sasha Amarin, yang dirawat akibat luka di perut dan kaki, mengatakan awalnya dia mengira suara letusan berasal dari perselisihan keluarga.

Tapi saat keluar dan melihat kejadian tersebut, dia menyadari situasinya jauh lebih serius.

Para saksi menggambarkan suasana panik di dalam gereja ketika orang-orang menjatuhkan diri ke bawah bangku untuk mencari perlindungan dan menjauh dari jendela.

Doa dan teriakan terdengar di seluruh bagian bangunan, sementara sebagian jemaat berusaha menyelamatkan diri.

Khalid al-Mdanat, yang berada di gereja saat kejadian, mengatakan kepada BBC Arabic bahwa serangan itu berlangsung sekitar 15 menit, dengan "orang-orang mencoba melarikan diri sementara tembakan masih berlangsung".

"Orang-orang mulai saling berdesakan dan menjatuhkan diri ke lantai," katanya.

"Sebagian berusaha berlindung, sebagian mendampingi anggota keluarga yang menjadi korban, sebagian lagi memeluk erat anak-anak mereka atau membantu teman-teman yang berada bersama mereka di gereja."

Dia mengatakan para pelaku meninggalkan lokasi melalui pintu gereja dan melarikan diri menggunakan sebuah truk pikap sambil terus melepaskan tembakan.

'Seperti perang yang baru saja terjadi'

Saksi lain mengatakan, "Saya mendengar suara yang terdengar seperti perang baru saja dimulai.

"Awalnya saya mengira itu korsleting listrik. Namun ketika saya melihat ke luar, ada orang-orang yang tergeletak dan terluka. Pemandangannya sangat mengerikan."

Seorang perempuan yang berada di dalam gereja mengatakan suara ledakan terdengar beberapa detik setelah doa dipanjatkan.

"Kemudian terdengar rentetan tembakan senapan otomatis dan suara kaca pecah. Saat itu kami mulai menyadari ada sesuatu yang sedang terjadi.

"Orang-orang mulai berteriak."

Menurut laporan jurnalis BBC Arabic, Majdi Qassous, kedua orang tuanya berada di gereja saat serangan terjadi ketika menghadiri upacara pemakaman.

Sekitar pukul 14.15 waktu setempat, dia menerima telepon dari ibunya yang mengabarkan adanya penembakan di area gereja.

Menurut kesaksian keluarganya, para pria bersenjata memasuki halaman luar dan melepaskan tembakan ke arah orang-orang yang berada di lokasi.

"Orang-orang berusaha berlindung di bawah bangku gereja dan menjauh dari jendela. Doa, jeritan, dan kepanikan terdengar di berbagai sudut, sementara sebagian lainnya mencoba melarikan diri," kata Qassous.

Para korban luka kemudian dibawa ke Rumah Sakit Militer Pangeran Ali di Karak.

Di luar rumah sakit, kerumunan keluarga dan warga tampak berkumpul dalam suasana duka dan syok.

'Operasi teroris kelompok ekstremis'

Perdana Menteri (PM) Jordania, Jaafar Hassan mengumumkan masa berkabung nasional selama tiga hari, mulai Jumat (23/10), dengan bendera dikibarkan setengah tiang.

Raja Abdullah II juga mengunjungi para korban luka pada Jumat dan menegaskan bahwa Yordania akan menghadapi "aksi teroris yang menargetkan Karak dengan hukuman paling berat".

"Darah warga Yordania sangat berharga, dan kami akan menghantam dengan tangan besi siapa pun yang menyerang negara ini," katanya.

Perdana Menteri Jaafar Hassan menyatakan serangan tersebut merupakan akibat dari "ideologi terorisme takfiri dan ekstremisme yang membutakan".

Mengenai kemungkinan hubungan pelaku dengan kelompok bersenjata tertentu, juru bicara pemerintah Mohammad Al-Momani mengatakan hal itu masih menjadi bagian dari penyelidikan dan akan diumumkan setelah ada bukti yang jelas.

Menteri Dalam Negeri Mazen Al-Faraya menyebut insiden itu sebagai "operasi teroris" yang dilakukan oleh "sekelompok ekstremis".

Dia menambahkan bahwa aparat keamanan masih terus berupaya memburu para pelaku.

Direktur Keamanan Publik Yordania, Obaidullah Al-Maayta, mengatakan masih terlalu dini untuk menyebut identitas para tersangka.

Menurutnya, penyelidikan masih berlangsung dan belum ada kepastian kapan proses tersebut akan selesai.

Televisi pemerintah kemudian menayangkan rekaman yang memperlihatkan tiga pria bersenjata melepaskan tembakan ke arah gereja sebelum bergerak menuju pintu masuk sambil terus menembak.

Pengamanan diperketat

Perdana Menteri Yordania, Jaafar Hassan memimpin rapat keamanan di Karak setelah serangan tersebut dan menegaskan bahwa para pelaku tidak akan lolos dari hukuman.

Dia mengatakan seluruh sumber daya keamanan telah dikerahkan untuk memburu para penyerang dan membawa mereka ke pengadilan.

Dia juga berjanji akan mengambil tindakan tegas terhadap siapa pun yang menghasut perpecahan.

Jaksa Agung di Amman, Hassan Al-Abdallat, memutuskan untuk melarang publikasi informasi terkait penyelidikan kasus tersebut, kecuali yang dirilis media resmi pemerintah di bawah pengawasan kementerian terkait.

Direktorat Keamanan Publik juga memperingatkan masyarakat agar tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi mengenai insiden itu.

Gereja: Serangan tidak akan goyahkan persatuan nasional

Patriarkat Ortodoks Yunani Yerusalem mengutuk serangan terhadap Gereja Santo George di Desa Hammoud, seraya menegaskan bahwa insiden tersebut tidak akan merusak persatuan antara umat Muslim dan Kristen di Yordania.

Dalam pernyataannya, Patriarkat menyebut bahwa jika tujuan serangan itu adalah mengusir komunitas Kristen dari tanah mereka, maka hal itu justru akan semakin memperkuat keterikatan mereka terhadap tanah tersebut.

Lembaga itu juga menyerukan agar lonceng gereja di Yordania dan Palestina dibunyikan serentak pada Sabtu siang untuk mengenang para korban.

Serangan tersebut juga dikutuk oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Presiden Lebanon Joseph Aoun, dan Perdana Menteri Yunani Kyriakos Mitsotakis, yang menyebut serangan terhadap rumah ibadah sebagai tindakan yang bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan.

Presiden Lebanon, Joseph Aoun, yang beragama Kristen, mengecam apa yang disebutnya sebagai "serangan teroris keji" terhadap gereja tersebut.

Menurut pernyataannya yang dikutip media Lebanon, serangan itu "menodai kesakralan kematian dan upacara pemakaman serta bertentangan dengan seluruh nilai agama dan kemanusiaan".

Menurut data pemerintah, umat Kristen mencakup sekitar dua hingga tiga persen populasi Yordania dan mayoritas berafiliasi dengan Gereja Ortodoks.

Tiga pelaku membawa senjata genggam

Rekaman CCTV yang telah diverifikasi oleh BBC tampak menunjukkan tiga pria bersenjata bergerak dari sebuah jalan menuju gereja tersebut.

Dua pelaku terlihat memasuki area yang diduga merupakan jalur masuk kendaraan ke kompleks gereja.

Keduanya kemudian sempat mundur sebelum kembali bersama seorang pria ketiga. Ketiga orang itu tampak membawa senjata genggam.

Rekaman terpisah yang diyakini diambil setelah serangan terjadi menunjukkan sejumlah korban tewas dan korban luka tergeletak di lokasi, di tengah suasana yang kacau.

BBC belum dapat secara independen memastikan identitas para pelaku ataupun afiliasi mereka dengan kelompok tertentu.

Menurutnya, situasi terus memburuk selama sekitar 10 menit tanpa henti. Setelah berhasil keluar dari gereja, ia melihat banyak korban berada di halaman kompleks gereja.

Menteri Dalam Negeri Yordania, Mazen Al-Faraya, menggambarkan insiden itu sebagai peristiwa yang "menyedihkan dan mengerikan", serta "belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah Kerajaan Hasyimiyah Yordania".

Pengamanan diperketat di sekitar rumah sakit yang merawat para korban luka akibat serangan di Karak, di tengah suasana yang dipenuhi kemarahan dan kesedihan warga, terutama keluarga korban tewas dan luka-luka.

Banyak warga tampak terpukul ketika jalan-jalan di sekitar rumah sakit ditutup. Sejumlah orang terpaksa memarkir kendaraan mereka jauh dari lokasi dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.

Langkah-langkah keamanan juga diperketat menjelang kunjungan Abdullah II untuk menjenguk para korban luka.

Suasana di sekitar rumah sakit tetap tegang. Tangisan dan teriakan terdengar ketika keluarga berduka mengenang orang-orang yang mereka cintai.

Banyak warga tampak syok, ketakutan, dan marah. Sebagian mengungkapkan kekecewaan atas apa yang mereka sebut sebagai "kegagalan mengambil tindakan yang lebih tegas terhadap para teroris".

Karak merupakan salah satu wilayah di Yordania yang memiliki komunitas Kristen cukup besar, meskipun mayoritas penduduk negara itu beragama Islam.

Kekerasan semacam ini tergolong jarang terjadi di Yordania, meski negara tersebut pernah mengalami sejumlah serangan mematikan pada masa lalu.

Laporan tambahan oleh Majdi Gousous dari BBC Arabic.