Jutaan orang pernah hidup dalam sebuah peradaban di hutan Amazon ribuan tahun silam – Teknologi laser mengungkap besarnya skala

    • Penulis, André Biernath
    • Peranan, BBC World Service
  • Telah diterbitkan
  • Waktu membaca: 6 menit

Para peneliti menemukan ratusan struktur tanah yang selama ini tersembunyi di bawah kanopi hutan hujan Amazon di Brasil.

Struktur tersebut dibuat oleh sebuah peradaban kuno yang diperkirakan pernah dihuni jutaan orang.

Struktur raksasa yang dibentuk dengan menggali tanah ini, yang dikenal sebagai geoglif, dibangun ribuan tahun lalu di wilayah yang jauh dari sungai-sungai besar.

"Orang-orang ini menciptakan bentuk-bentuk geometri monumental di Amazon pada masa yang sama ketika Pythagoras mengembangkan teoremanya di Yunani," kata paleontolog Alceu Ranzi, presiden Institut Geoglif Amazon sekaligus anggota tim peneliti tersebut.

Memindai jejak masa lalu

Penelitian yang baru-baru ini dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Nature itu dilakukan oleh tim ilmuwan dari sejumlah universitas dan lembaga penelitian di Spanyol, Finlandia, Brasil, dan Denmark.

Mereka memindai kanopi hutan yang lebat menggunakan teknologi bernama LiDAR (Light Detection and Ranging), yang memanfaatkan pulsa laser untuk mengukur jarak dan menghasilkan peta tiga dimensi yang sangat rinci.

Teknologi ini memungkinkan para peneliti menganalisis wilayah yang sangat luas tanpa harus membuka tutupan vegetasi atau mengunjungi setiap lokasi secara langsung.

Dengan cara tersebut, mereka dapat mengungkap struktur-struktur kuno yang selama ini tersembunyi di bawah lebatnya hutan Amazon.

"Ini adalah survei LiDAR pertama yang benar-benar ambisius di Amazon," kata arkeolog sekaligus antropolog dan salah satu penulis studi, Martti Pärssinen dari Universitas Helsinki.

Tim peneliti memetakan wilayah seluas 4.400 kilometer persegi.

Mereka mengidentifikasi 432 geoglif, yang sebagian besar sebelumnya belum pernah didokumentasikan, dan diperkirakan dibangun antara 600 SM hingga 850 M.

Para peneliti memperkirakan peradaban yang dikenal sebagai Aquiry dan membangun struktur-struktur tersebut menempati wilayah seluas sekitar 183.000 kilometer persegi, atau kurang lebih setara dengan luas Kamboja atau Suriah.

Pada puncak kejayaannya, sekitar tahun 100 hingga 300 M, jumlah penduduknya mungkin mencapai tiga juta jiwa.

Ranzi mengatakan timnya menemukan parit-parit dengan lebar hingga 15 meter dan kedalaman mencapai lima meter.

Struktur yang sangat besar ini menunjukkan adanya komunitas besar yang bekerja secara bersama-sama.

"Tidak ada batu di wilayah ini. Mereka kemungkinan menggunakan peralatan dari kayu dan keranjang untuk memindahkan tanah," ujarnya.

Namun, iklim Amazon yang lembap membuat bahan-bahan organik cepat terurai, sehingga sulit untuk memastikan hal tersebut secara pasti.

Selain membutuhkan tenaga kerja dalam jumlah besar dan pembagian tugas yang terorganisasi, para peneliti meyakini pembangunan struktur-struktur ini juga memerlukan pengetahuan matematika dan geometri yang cukup maju.

Untuk apa struktur ini dibangun?

Geoglif-geoglif itu sebelumnya diyakini berfungsi sebagai benteng atau struktur pertahanan yang melindungi penduduk dari serangan pihak luar.

Namun kini para ahli menduga geoglif-geoglif tersebut lebih mungkin memiliki fungsi seremonial dan politik, yakni sebagai tempat berkumpul masyarakat, bukan sebagai lokasi yang dihuni secara permanen.

"Jika hal ini terbukti benar, maka masyarakat tersebut tampaknya hidup dalam kondisi damai. Upaya dan tenaga kerja yang begitu besar untuk membangun geoglif-geoglif ini menunjukkan bahwa mereka tidak memiliki musuh yang mendesak untuk dikhawatirkan," kata Ranzi.

Baca juga:

Pärssinen menyoroti kesimpulan lain mengenai masyarakat Aquiry, yakni adanya penghormatan yang mendalam terhadap alam.

"Mereka tidak pernah mengubah hutan hujan menjadi sabana," ujarnya.

"Pembukaan lahan dan penebangan pohon tampaknya dilakukan hanya sebatas yang diperlukan untuk menopang kehidupan mereka, termasuk untuk membudidayakan jagung, labu, dan singkong, tidak lebih dari itu."

Penggalian arkeologis juga menunjukkan bahwa struktur-struktur tersebut dirawat dengan cermat selama berabad-abad.

"Bukan hanya membangunnya, tetapi juga memeliharanya dari generasi ke generasi. Hal itu jelas membutuhkan akumulasi pengetahuan yang diwariskan dan terus dikembangkan," kata salah satu penulis studi lainnya, arkeolog dan antropolog Rhuan Carlos Lopes dari Universitas Federal Pará, Brasil.

Menurut Ranzi, geoglif-geoglif tersebut bukanlah bangunan yang berdiri terpisah dan tersembunyi di tengah hutan, melainkan bagian dari jaringan yang saling terhubung dengan baik.

"Kami memetakan 350 kilometer jalan yang menghubungkan geoglif-geoglif ini," jelasnya. "Jalur-jalur tersebut mengarah ke lokasi geoglif, dan lebarnya semakin bertambah ketika mendekati struktur-struktur tersebut."

Berakhirnya peradaban Aquiry

Selama penelitian berlangsung, para ilmuwan menemukan sesuatu yang menarik: pembangunan geoglif tampaknya berhenti sekitar 850 M. Hingga kini, penyebabnya masih belum diketahui secara pasti.

Ranzi membandingkan fenomena tersebut dengan peradaban Maya, yang pusat-pusat kota utamanya di beberapa wilayah Meksiko dan Amerika Tengah juga ditinggalkan pada periode yang kurang lebih sama.

"Masyarakat Maya berhenti membangun dan menggunakan istana-istana mereka. Piramida-piramida di Yucatán kembali ditelan oleh hutan," katanya.

"Hal serupa tampaknya terjadi di Amazon. Abad kesembilan mungkin merupakan periode krisis lingkungan yang lebih luas."

Apa pun penyebabnya, berbagai penelitian terbaru, termasuk studi ini, semakin menggugat pandangan lama yang menganggap hutan hujan Amazon sebagai wilayah liar yang tidak pernah banyak dihuni manusia.

Sebaliknya, bukti-bukti yang terus bermunculan menunjukkan bahwa Amazon pernah menjadi rumah bagi masyarakat besar dan kompleks yang membangun jaringan jalan, monumen tanah berskala raksasa, serta mengelola lingkungan mereka selama berabad-abad tanpa menghilangkan karakter dasar hutan hujan yang mengelilingi mereka.

Dalam beberapa dekade terakhir, berbagai penelitian dari beragam disiplin ilmu menunjukkan bahwa jutaan orang telah hidup di kawasan Amazon jauh sebelum kedatangan bangsa Eropa.

Mereka juga meninggalkan jejak yang bertahan lama pada struktur dan komposisi hutan tropis terbesar di dunia itu.

"Apa yang kita lihat di Amazon bukanlah hutan alam yang luas, melainkan sebuah taman historis raksasa yang dibentuk oleh aktivitas manusia," kata Lopes.

Perkiraan jumlah penduduk Amazon pada masa pra-kolonial terus meningkat seiring berkembangnya penelitian. Studi-studi terdahulu memperkirakan seluruh kawasan Amazon dihuni sekitar satu hingga 2,5 juta orang. Estimasi yang lebih baru kemudian menaikkan angka tersebut menjadi antara lima hingga 10 juta jiwa.

Kini, jika wilayah yang relatif kecil seperti kawasan Aquiry saja mampu menopang hingga tiga juta penduduk, maka angka-angka tersebut mungkin perlu direvisi kembali ke tingkat yang lebih tinggi.

Asumsi lama lainnya menyebutkan bahwa sebagian besar penduduk Amazon hidup di sepanjang sungai-sungai besar, tempat sumber pangan lebih mudah diperoleh dan transportasi dapat dilakukan dengan perahu.

Namun, geoglif-geoglif yang ditemukan justru sebagian besar berada di daerah dataran tinggi di antara aliran sungai.

Studi terbaru ini menunjukkan bahwa kawasan-kawasan tersebut juga mampu menopang populasi besar yang sanggup mengelola hutan dan membudidayakan tanaman pangan.

"Masyarakat ini tidak hanya bermukim di sepanjang sungai-sungai besar yang kaya ikan dan mudah dilayari dengan kano," kata Ranzi.

"Mereka memahami bentang alam di sekelilingnya, menetap jauh dari sungai, dan bepergian dengan berjalan kaki melalui jaringan jalan yang mereka bangun."

"Dan hal itu sepenuhnya mengubah pemahaman kita tentang bagaimana Amazon dihuni pada masa lalu."